Workshop On Integrated Lake Basin Management

Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan Workshop mengenai pengelolaan danau, dengan judul Integrated Lake Basin Management. Workshop dibuka oleh DirekturJenderal PDASHL, Bapak IB Putera Parthama, dengan narasumber dari International Lake Environment Committeee Foundation (ILEC), Prof. Masahisa Nakamura dan Ms. Kiyoko Takemoto.

ILEC adalah lembaga non pemerintah internasional yang berkedudukan di Jepang, dan sangat berpengalaman dalam pengelolaan danau di Jepang, khususnya Danau Biwa, dan beberapa danau di berbagai negara. Melalui workshop ini diharapkan KLHK dan pemangku kepentingan lainnnya dapat mengambil pembelajaran mengenai pengelolaan danau.

Workshop ILBM ini juga mengantarkan informasi mengenai penyelenggaraan the 17th World Lake Conference (WLC17) yang akan dilaksanakan di Ibaraki, Jepang, pada tanggal 15-19 Oktober 2018, yang akan dihadiri oleh para pengelola danau dari berbagai negara, dan direncanakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menjadi salah satu keynote speaker dalam Opening Ceremony WLC. Diharapkan Indonesia, khususnya KLHK akan dapat terlibat aktif dalam WLC17, dan mengambil pembelajaran yang bermanfaat untuk peningkatan pengelolaan danau di Indonesia.

 

Jakarta, 12 Juli 2018

Direktorat Pengendalian Kerusakan Perairan Darat

Ditjen PDASHL - KLHK

 

KLHK Launching Model Desa RHL Berbasis DAS

Pembangunan model desa Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat memberikan contoh/ model bagi para pemangku kepentingan tentang berbagai bentuk pelaksanaan kegiatan RHL yang berbasis DAS, pada lingkup administrasi terkecil.

Tanggal 11 Juli 2018, Desa Cilampuyang, Kabupaten Garut, sebagai model desa RHL berbasis DAS dilaunching KLHK melalui BPDASHL Cimanuk Citanduy oleh Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Bapak IB. Putera Parthama, P.hD. Selain melaunching acara tersebut Dirjen PDASHL melakukan penanaman serta menandatangani perjanjian kerja sama antara BPDASHL dan 10 Universitas dalam merehabilitasi hutan dan lahan.

Sasaran pengembangan Model Desa RHL adalah lahan pertanian dan perkebunan kering. Desa Cilampuyang yang memiliki luas 1470 Ha secara hidrologis berada di daerah hulu Cimanuk dan berfungsi sebagai daerah tangkapan hujan atau resapan air yang aktif serta sebagai tempat pertanian rakyat. Kepala BPDASHL Cimanuk Citanduy dalam sambutannya meminta dukungan dari pemerintah Garut untuk membantu meningkatkan kualitas tanah dan air berbasis DAS.

Pembangunan model desa RHL berbasis DAS merupakan satu paket kegiatan yang di dalamnya terdapat pekerjaan : pembuatan rancangan model desa RHL berbasis DAS dan pendampingan masyarakat, pembuatan agroforestri, pembuatan KBR, pembuatan dam penahan, pembuatan gully plug, dan pembuatan sumur resapan air. Dengan pembangunan model ini, desa diharapkan mampu menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya.

Hari Penanggulangan Degradasi Lahan Sedunia 2018

Isu penurunan kualitas/produktivitas lahan atau lebih dikenal sebagai degradasi lahan banyak melanda di beberapa Negara berkembang. Kualitas lahan menurun bisa diakibatkan kurang tepatnya penentuan awal pengelolaan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi alam Indonesia memiliki lahan yang subur dan memiliki sumber daya alam sedemikian kaya. Namun demikian, proses perubahan fisik dan kimia di permukaan dataran Indonesia cenderung intensif. Artinya negara kita,  jika sedikit saja salah tata kelola, proses degradasi akan terjadi dan cenderung meluas.

Berdasarkan peta erosi global yang disampaikan Morgan (2005), kita termasuk negara dengan laju sedimentasi tertinggi di dunia, yaitu > 250 ton/km2/tahun. Dampaknya sungguh dahsyat, disamping penurunan produktivitas lahan, terjadi  peningkatan frekuensi bencana banjir, masalah irigasi, dan masalah sumber tenaga air atau disebut dengan bencana hidrometeorologis. Laporan BNPB tahun 2016 menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah kejadian bencana hidrometeorologis hingga 16 kali lebih tinggi dibandingkan  tahun 2002.

Berbagai bentuk kerugianpun menghadang kita. Kerugian ekonomi akibat erosi di Jawa  menurut Morgan (2005) sebesar U$ 400 juta/tahun. Laporan BAPPENAS (2015) menyatakan bahwa secara total, jumlah air seluruh pulau di Indonesia terjadi surplus sebesar 449.045 juta m3 (2015). Namun untuk Jawa dan Bali terjadi defisit sebesar 105.786 juta m3 dan Nusa Tenggara defisit sebesar 2.317 juta m3. Dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1,8 % per tahun serta laju kerusakan hutan dan lahan yang cenderung tinggi, dapat dibayangkan krisis sumberdaya air yang terjadi saat ini dan masa mendatang. Dengan demikian, keikutsertaan  Indonesia dalam konvensi PBB tentang penanggulangan degradasi lahan dan penggurunan (United Nation Convention to Combat Desertification, UNCCD) menjadi dasar dalam menurunkan  jumlah degradasi yang terjadi.

Hasil pertemuan PBB,  UNCCD melalui peraturan Presiden No. 135 Tahun 1998, maka Indonesia memiliki kewajiban untuk memperingati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, atau yang lebih dikenal sebagai World Day to Combat Desertification (WDCD) pada tanggal 17 Juni. Peringatan tersebut diharapkan menjadi momentum meningkatkan kesadaran dan kepedulian para pihak dalam menangani degradasi lahan yang telah menurunkan kualitas hidup manusia di berbagai belahan dunia. Tema WDCD Tahun 2018 secara global adalah “Land has true value.  Invest in it,”  sedangkan secara nasional adalah “Lahan adalah aset yang bernilai tinggi, Jaga dan kelola untuk masa depan”.

Maksud diselenggarakan peringatan ini adalah untuk meningkatkan keterlibatan para pihak dalam penanganan degradasi lahan dan mempercepat perumusan program tepat guna. Tujuan yang hendak dicapai diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Tersedianya data spasial yang handal dan dapat diakses para pihak untuk mendukung rumusan strategi berdayaguna dalam penanggulangan degradasi lahan sehingga target keseimbangan antara degradasi dan rehabilitasi pada tahun 2030 (2030 Zero Net Land Degradation) dapat tercapai.

2. Meningkatnya mobilisasi berbagai skema sumberdaya dalam penanganan degradasi lahan dan peningkatan tingkat penghidupan masyarakat.

3. Tercapainya target serta pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goal, SDG), yaitu penurunan proporsi lahan terdegradasi menurut luas wilayah.

4. Dihasilkan kerangka kerja logis yang tepatguna dan selalu termutahirkan dalam formulasi program nasional penanggulangan degradasi lahan yang dapat diterima dan mampu menggerakkan partisipasi para pihak.

Kisah Meranti di Gunung Dahu

Sekilas terdengar nama Meranti adalah seorang perempuan cantik, hidup dan tinggal di suatu pelosok desa. Namun bukan itu yang diceritakan. Nama Meranti di sini adalah sebuah nama jenis pohon yang menjadi idola atau favorit hasil kayunya di luar Jawa. Bisa dibilang kualitas kayu Meranti hampir sama dengan kualitas kayu Jati yang banyak ditemui di perusahaan-perusahaan pembuat furniture dan meubel di Jawa.

Melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Meranti diuji cobakan untuk ditanam di Daerah Gunung Dahu. Keberhasilan pertumbuhan selain untuk penelitian, tanaman jenis Meranti ini berhasil merehabilitasi hutan dan lahan dengan prosentase hidup baik. Tiga jenis Meranti yaitu Shorea platycados, Shorea leprosula, Shorea selanica merupakan jenis yang dapat tumbuh subur di daerah tersebut.

Sekumpulan Meranti telah hidup selama 20 tahun. Meranti telah memberikan manfaat bagi alam dan masyarakat sekitar. Selain mencegah longsor, sekumpulan Meranti ini telah mendukung kebutuhan air walaupun di musim kemarau. Ketersediaan air dapat tersimpan dengan baik karena adanya hutan Meranti yang berada di Gunung Dahu, Desa Pabangbon, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tanggal 22 Mei 2018, Direktur Konservasi Tanah dan Air (KTA) Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) KLHK, Muhammad Firman pada kesempatan tersebut turut mengapresiasi keberhasilan tumbuh kembangnya Meranti. Beliau juga memberikan keterangan bahwa umumnya hutan Meranti masih dalam kondisi alam, kira-kira 25 tahun lalu merupakan obyek untuk ditebang. Hari ini kita semua melihat success story Meranti yang pada dasarnya bukan hidup di habitatnya.

Selain menceritakan keberhasilan hidup Meranti, M. Firman mengajak seluruh masyarakat untuk menanam 25 pohon selama seumur hidup. Beliau juga menyarankan menanam jenis Meranti, karena komoditas permintaan jenis Meranti cukup tinggi. Meskipun saat ini masyarakat masih menyukai bibit jenis buah, seperti durian, lengkeng, rambutan dan lain-lain. “Jika kayunya tidak dapat ditebang, buahnya masih dapat dipetik” ujar Direktur KTA.

Namun pada dasarnya sama saja. “Jika kita tidak membeda-bedakan dalam hal menanam, maka nantinya yang kita tuai merupakan hasil hutan baik kayu, non kayu dan jasa lingkungan” lanjutnya. Kalimat tersebut mengakhiri wawancara beliau di lapangan. Semoga kisah inspiratif “Meranti” ini dapat menggugah masyarakat betapa pentingnya menghijaukan bumi ini.

Hijaukan Lahan Pasca Tambang di Provinsi Bangka Belitung

Lahan pasca tambang di Provinsi Bangka Belitung sangat luas mencapai lebih 200.000 ha, perlu adanya usaha keras untuk  perbaikan tersebut. Rehabilitasi lahan merupakan upaya yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) khususnya pada Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai (PDASHL) untuk menghijaukan kembali lahan pasca tambang tersebut.

Lahan pasca tambang mempunyai karakteristik yang berbeda dari lahan kritis di Indonesia. Karakteristik lahan pasca tambang (khususnya tambang timah) yaitu :

1. Lahan pasca tambang umumnya asam sampai sangat asam pH dari 3,7 -5,6 miskin unsur hara dan miskin bahan organik.

2. Umumnya hamparan pasir luas, susah aksesnya, suhu lingkungan panas berkisar antara 350 C – 470 C pada kondisi normal kemarau bisa mencapai 450 C – 550 C.

3. Daerah pasca tambang susah tenaga kerja dan umumnya mahal. Tindakan teknis penanganannya harus mempertimbangkan sumber daya yang ada di tempat, yang penting “mudah dilaksanakan” oleh masyarakat setempat.

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Baturusa Cerucuk di Daerah Bangka Belitung terus melakukan upaya memperbaiki lahan pasca tambang. Teknik yang digunakan menggunakan Teknik Sederhana Industri Rumah Tangga Kompos Reklamasi. Teknik sederhana ini teknik yang mudah dikembangkan bagi masyarakat setempat dan mudah dilaksanakan.

Tiga hal minimal yang harus dikuasai saat menanam pada lahan pasca tambang, yaitu Media, Bibit, dan Pemeliharaan Fase Pertumbuhan.

1. Media kompos cetak merupakan media alternatif bagi kondisi lahan pasca tambang, agar memudahkan dibawa oleh pekerja dan menyediakan bahan organik relatif sama setiap lubang tanam.

2. Bibit yang dipilih jenis fast growing. Lokasi pembuatan bibit (persemaian) yang dipilih harus dekat dengan sumber air, tanahnya datar dan mudah dicapai serta mendapat cahaya matahari penuh. Kondisi ekologisnya mendekati calon areal penanaman.

3. Pemeliharaan dibagi menjadi 3 fase pertumbuhan :

a.    Fase Bertahan Hidup (umur 1 -2 tahun)

Yaitu fase adaptasi bibit pada kondisi ekstrim pasca tambang sampai umur 2 tahun. Media tablet yang memiliki unsur hara tinggi dipendam di lubang tanam.

b.    Fase Kualitas Hidup (umur 2 -4 tahun)

Pemeliharaan mulai intensif, tambahan nutrisi kompos 10 kg/pohon dan NPK tablet komposisi 10:20:15

c.    Fase Kualitas Hidup (umur diatas 4 tahun)

Perlu penambahan kompos 10 kg/pohon dan NPK tablet buah, dengan komposisi sama 10:20:15. Unsur P disini paling tinggi supaya merangsang pertumbuhan akar dan menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit.

Semoga dengan usaha keras dan penanaman dengan teknik tersebut, penghijauan di daerah lahan pasca tambang akan membuahkan hasil yang diinginkan. Rehabilitasi lahan yang merupakan tugas dan fungsi Ditjen PDASHL KLHK terus digerakkan dengan niat tulus dan kerja keras demi menghijaukan bumi ini.

 

Informasi      : BPDASHL Baturusa Cerucuk

Editing         : Ditjen PDASHL KLHK

 

Makmurkan Rakyat dan Lestarikan Alam Gunungkidul

Lima bulan yang lalu di Gunungkidul tepat pada tanggal 9 Desember 2017 lalu Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo menghadiri Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (HMPI dan BMN) yang dilaksanakan tiap tahun pada tanggal 28 November.

Pada kesempatan tersebut Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup dan KehutananDr. Siti Nurbaya, para Menteri Pada Kabinet Kerja, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta warga dan petani sekitar Desa Karangasem, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DIY melakukan penanaman pohon serentak sebanyak 45.000 bibit di 5 bukit  seluas 15 Ha di desa Karangasem.

11 Mei 2018, Tim Data dan Informasi Ditjen PDASHL berkunjung ke Desa Karangasem, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DIY untuk melakukan peninjauan tanaman HMPI tahun 2017. Kegiatan yang bertemakan “Kerja Bersama : Makmurkan Rakyat, Lestarikan Alam” tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal tesebut dapat dibuktikan dengan tumbuhnya tanaman-tanaman jati yang ditanam saat itu.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dukuh Desa Karangasem, Joko Sarjono juga  mengatakan bahwa keberhasilan ini selain adanya hujan di daerah Gunungkidul, masyarakat turut serta merawat tanaman – tanaman tersebut.

Harapan kita semua kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat seiring dengan peningkatan produktivitas hutan dan lahan serta terpeliharanya kelestarian alam.

Galeri Video

Kalendar

July 2018
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

LOGIN